Skip navigation

Entah bagaimana dia bisa masuk, mungkin dari saluran air di kamar mandi yang lupa aku tutup. Yang pasti kehadirannya di kamarku baru aku sadari 2 malam yang lalu.

Pada suatu tengah malam, tiba-tiba berasa ada yang merusuhi tempat sampah yang hanya berisi kertas-kertas. Dalam keadaan setengah sadar, tadinya aku pikir itu ulah si kecoa yang emang sempat berpapasan denganku sebelum tidur yang seharusnya sudah musnah karena setelah kami berpapasan, aku menghadiahinya minuman anti serangga sebagai salam perkenalan. Tapi setelah kesadaranku naik satu level, aku baru mikir kalo seekor kecoa ga akan menyebabkan keributan yang berarti jika ia merusuhi si tempat sampah itu.

Kyaa…. pasti ada “sesuatu” yang lebih besar dari kecoa yang sedang bergentayangan di kamar ini…

Ohmaigod….

Langsung kepikiran kalo si “sesuatu” itu bisa jadi seekor tikus kecil alias cecurut… hiiii…

begitu kesadaran naik satu level lagi dan kebetulan matahari juga sudah mulai keluar, aku langsung mengeluarkan si tempat sampah dari kamar dan membuka pintu kamar lebar-lebar, berharap si tikus mau berdamai lalu meninggalkan kamarku setelah berhasil menyusup dan nginep satu malam gratis.

Tapi dasar tikus ga makan sekolahan, dengan nyantainya dia malah cari perhatian dengan berpesiar keliling kamar sambil sesekali curi-curi pandang kearahku yang udah siap dengan “senjata” sapu di tangan. Bete!!!

Antara benci dan rindu geli aku lalu memutuskan untuk menyudahi drama konyol ini, dengan semangat langkahi dulu mayatku (sounds hiperbola yak… ah biarin lah…) aku lalu melancarkan serangan dengan gaya ala shaolin popaye mengibas2kan sapu sambil mengejarnya kemanapun dia berlari.

Kyahahahaha… berhasil, si tikus tampak keder juga… akhirnya dia mengehentikan pesiarnya dan meringkuk di sudut kamar yang emang tertutupi dengan kasur cadangan di bawah tempat tidur. Aku yang belum mau menyudahi petualangan yang terlanjur dimulai, pun mengeluarkan si kasur dari bawah tempat tidur dan mendapati si tikus dengan ekspresi ketakutan. Dia pun lalu berlari lagi mencari tempat yang lebih aman. Tapi, bukannya keluar menuju pintu yang masih terbuka lebar untuk kepergiannya, dia malah nyelusup masuk kebelakang lemari.

Arrggghhh….

Dasar tikus sialan. Pagi-pagi gini kan ga mungkin aku geser2 lemari yang penuh itu karena untuk menggesernya paling tidak setengah isinya harus dikeluarkan dulu dan itu makan waktu, mana sekarang adalah waktunya aku untuk siap-siap ke kantor. DAMN…

Ya sudahlah… akhirnya aku menyerah kalah, membiarkannya terperangkap dibelakang lemari karena sepertinya untuk keluarpun dia sudah tidak bisa.

Lalu, sejak dua malam lalu aku pun resmi berbagi kamar dengan si tikus. Mendengarkan keratan dan cicitannya di malam hari yang seolah minta bantuan untuk dikeluarkan dari sudut belakang lemari.

Maaf ya kus, kemarin kan aku sudah berbaik hati mengajakmu berdamai tapi engkau tolak, sekarang dirimu sendiri kan yang susah. Pesanku, bersabarlah sampe hari sabtu karena aku cuma punya waktu untuk beberes dihari itu. Kudoakan semoga kau masih bisa bertahan….

*Salam hangat dariku yang (sangat terpaksa) berbagi kamar denganmu*

Update 20080611

Semalam, sekitar jam 9 sekilas aku melihat penampakan dari si tikus yang kembali memilih nongkrong di sudut kamar, dibawah kasur.  Aha.. ternyata kau sudah bisa keluar dari belakang lemari… Baguslah, jadi aku ga perlu repot-repot untuk ngeluarin isi lemari untuk bertemu kembali denganmu.

Kau lebih merindukanku rupanya hehehe…

Aku yang sebelumnya emang udah siap tempur dengan membeli lem tikus langsung bergerak cepat. Melumuri lem di karton sambil tak lupa menyiapkan sedikit cakue sebagai santapan perpisahan kepada si tikus. Sejam aku menunggu kedatangan si tikus tapi dia tak mau menunjukkan batang hidungnya.

Hmm.. mungkin dia sedang mempersiapkan kata-kata romantis di pertemuan kami nanti *huhuy….*

Sampai akhirnya aku tertidur dan baru kebangun di tengah malam saat mau lihat pertandingan antara Yunani dan Swedia. Sambil ngobrol ngalor ngidul sama si mbak yang minta di bangunin juga kalo aku bangun, aku baru sadar kalau ternyata si tikus sudah berada disana. Ditempat seharusnya dia berada, dengan jamuan cakue dariku yang belum berhasil dinikmatinya.

Duh tikus… kalau lihat kamu ga berkutik gitu rasanya ga tega, tapi kalau aku harus berbagi kamar lebih lama denganmu aku sendiri yang lama-lama bisa gila.

Sekali lagi, kus… maafkan aku…

Ps: Sayang sekali, ternyata cerita ini harus berakhir dengan ending yang tidak berprikebinatangan 😦

Advertisements

4 Comments

  1. hiyyy… adhe baek bgt niatan bdamai ma tikus, klo kejadian ama aku
    dah kupanggilin hansip, secara tamu harap lapor

  2. Cieee ..dhe udh soulmate bgt kayaknya…pake kami-kamian segala…..

  3. ..ih.. masih berani yah dikejar… gue mah udah pasti teriak manggil bantuan dan
    gak sanggup deh deketin ampe face-to -face gitu… salut dhe mah nyali loe! plok plok plok

  4. #1 Lapornya ke hansip? bukannya ke RT??

    #2 Ya gitu deh no’, secara batiniah kami jadi lebih akrab setelah 3 malam living together kekekeke…

    #3 beraninya juga karena bawa “senjata” kok, kalo cuma tangan kosong mah emoh… bukannya takut tapi geliiii… hiiiii….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: