Skip navigation

Kembali aku akan menceritakan sekelumit berita pagi hari ini. Benar, ini adalah untuk yang kesekian kalinya jadi jangan heran karena menonton berita pagi memang sudah menjadi rutinistasku sebelum mandi.

Pagi ini, di Nuansa pagi tidak seperti biasanya menghadirkan seorang mahasiswa untuk diwawancarai terkait dengan demo mahasiswa UNAS yang (katanya) brutal dan sarat dengan narkotika dan miras (jadi ingat bang oma ^_^~) itu.

Apa yang aku dapatkan dari pembicaraan yang terjadi tadi hanyalah rasa Kesal dan Malu.

Kesal karena si mahasiswa sama sekali tidak menunjukkan kalau dia adalah bagian dari kaum intelektual yang seharusnya MIKIR dulu sebelum bertindak dan bukan malahan cuma MAIN HATI tanpa menggunakan logika, juga Malu karena si mahasiswa yang ditampilkan tidak ada bedanya dengan preman brutal yang bisanya cuma pake otot.

Berikut sekelumit petikan pembicaraan antara Aiman Witjaksono (A) dan si Mahasiswa (M) yang membuatku memiliki komentar seperti itu:

A: Mengapa anda melakukan demo pada malam hari? demo justru di saat lalu lintas jakarta sedang macet-macetnya di jalan protokol yang bahkan tanpa ada demo pun sudah macet. Apa Anda tidak berpikir kalau tindakan anda justru akan membuat masyarakat yang ingin Anda bela hak nya malah menilai tindakan yang Anda lakukan malah “mengganggu” kenyamanan mereka?

M: (tampak tak mengerti maksud pertanyaan atau memang tidak tau harus menjawab apa) lalu sekenanya menjawab, yah pemerintah juga waktu mengumumkan kenaikan BBM kan di malam hari.

<“penonton kecewa…., kenapa ga sekalian aja jawab “kan kalo malem ga panas pak… eeeerrrrkkkk…..”>

Melihat berita di TV terkait demo tentang kenaikan BBM memang bikin miris dan yang bikin miris lagi karena (hampir semua) yang diekspos media adalah demo yang berakhir dengan kerusuhan (apa iya, saat ini emang ga ada lagi demo mahasiswa yang berakhir damai atau paling tidak berakhir dengan diadakannya dialog antara pihak yang mendomo dan didemo guna mencari alternatif solusi?)

Aku setuju kalau mahasiswa idealnya bukan cuma duduk manis di kampus, tapi menyalurkan aspirasi masyarakat ga harus brutal kan?

Ada polisi tak bersalah yang ditendang kepalanya (hanya karena) dia sedang berseragam,

menyoret-nyoret jalan dan mobil berplat merah dengan pilox juga merusak fasilitas umum,

membakar ban bekas yang malah mengakibatkan kemacetan,

ayo kita pikir lagi, apa itu semua dapat menyelesaikan permasalahan? ENGGAK kan?

si pak polisi yang punya anak dan keluarga pasti menangis melihat Bapaknya yang (hanya karena) tak sengaja melintasi lokasi demo malah ditendang kepalanya. Bayangkan aja kalau itu BAPAKMU…

mikir dong.. menulisi mobil berplat merah, menulisi jalan pake pilox dan merusak fasilitas umum justru akan merugikan keuangan negara karena itu semua pastinya akan “diservis” ulang dan (tentunya) menggunakan duit negara. Duit negara alias sama dengan duit rakyat yang (katanya) sedang kalian bela.

Maaf teman-teman, aku bukannya ga peduli dengan keadaan negeri saat ini tapi aku pikir demo anarkis bukanlah solusi.

Memang, tulisan ini masih memiliki tatanan bahasa yang kacau. Tapi, semoga kalian yang sempat membacanya bisa mengerti maksudku.

Advertisements

One Comment

  1. wah.wah…
    bner bgt tuh. secara waktu itu gw juga liat berita di Nuansa Pagi.
    malu2in tuh mahasiswa,
    gak mikir apa? dia udah bikin malu sekaligus kecewa kepada penonton seluruh nusantara..
    ditanya bener2 bukannya jawab pake otak, malah ngotot g karuan.. huh.
    singkatnya perdebatan g abis2 gara2 si mahasiswa BODOH itu.
    langsung gw ganti cenel tv
    tau ah..
    cape dehh…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: