Skip navigation

Niat awalnya sih pengen lanjutin postingan tentang perjalanan dinas kemarin, tp entah kenapa moodnya tiba-tiba ilang bagai ditiup angin (halah!!!) jadinya males deh, maaf yah treman-treman yang udah nungguin (emang ada??) huehehehe….

Eh, tapi sebentar… sebentar… berhubung diriku ini baik hati dan tidak sombong serta ga tegaan, baiklah.. aku akan coba cerita sedikit tentang perjalanan kemarin. Biar emaknya nayla senang nih kekeke…

Begini ceritanya (menerawang…), kemarin itu aku dan tim yang terdiri dari 4 orang termasuk driver kan mengadakan pendataan dan validasi data di 2 kabupaten/kota yaitu kota lhokseumawe dan takengon (kab. A. tengah), nah pertamanya kami ke lhokseumawe 3 hari mendata disana alhamdulillah bisa kelar. Pendataan di lhokseumawe lebih mudah dilakukan karena pengguna-pengguna disana sudah cukup banyak yang ngerti kalau pake frekuensi itu harus punya izin (Balmon udah pernah adain sosialiasi ke pengguna frekuensi di kota lhokseumawe bulan Agustus kemarin). Kami hanya menemukan kurang dari 5 pengguna baru yang tidak memiliki izin dan rata-rata disebabkan karena ketidaktahuan mereka. Eh ada juga ding satu tuh yang emang bandel karena ngerasa dia juga bagian dari pemerintah sehingga ga harus ikutan bikin izin.. (pola pikir yang aneh) udah gitu pas diperiksa make repeaternya yang rakitan pulak… (duuh… emang Bapak ga pernah liat iklan ini yaaa??). Tapi senengnya ada yang passs banget mau menggunakan dan ga tau prosedur eh kami pas dateng ke mereka. Emang paling enak yah kalo bisa nolong orang :).

Sebagai gambaran, saat kegiatan pendataan kayak gini, ga ada tuh ceritanya lihat kiri lihat kanan menikmati pemandangan, karena seluruh tim wajib lihat keatas, mencari-cari posisi antena (yang tentu saja bukan antena tipi) dan kalo udah nemu ya langsung masuk aja (kecuali polisi atau TNI ding, karena mereka sudah punya alokasi frekuensi tertentu), tapi kalau nemu yang ada call sign nya baik Orari atau RAPI ditinggalin aja karena data mereka akan kami ambil dari ketua organisasi masing-masing, abisnya selain ribet, waktunya juga ga bakalan sempat kalau harus mendata satu-satu si pengguna Orari atau RAPI ini.

Setelah menghabiskan 3 hari di Lhokseumawe, perjalanan dilanjutkan ke takengon di aceh tengah. Kota ini berada sekitar 1250 meter ditas permukaan laut (hasil lihat gps) jadi ga heran kalau cuaca disini duinggiiin banget. Tapi pemadangan nya bener-bener bagus banget, sayang aku ga sempat foto-foto lagi-lagi karena ngejar waktu, karena kami cuma dijadwalkan 2 hari harus kelar ndata semua pengguna disini. Walau kelihatannya kota kecil ternyata banyak juga pengguna frekuensi disini yang sayangnya tidak mengetahui prosedur perizinan, malah dari hasi pendataan ke dinas perhubungan setempat, beberapa hari sebelum kedatangan kami ternyat mereka telah mengadakan sosialisasi sekaligus pendataan kepada para pengguna frekuensi se aceh tengah guna mendapatkan rekomendasi penggunaan frekuensi dari dinas perhubungan setempat (nah loh…). Saat kami tanyakan apa dasar hukum mereka dalam mengeluarkan rekomendasi tersebut dengan santainya mereka bilang “TIDAK TAHU” (ckckckck…. berani amat bikin kegiatan tanpa dasar hukum, apa nantinya ga jadi pertanyaan tuh saat pemeriksa datang???)

Ngomongin masalah dasar hukum, saat ini walaupun sudah otonomi daerah apalagi Aceh yang punya lagi otonomi khusus dengan UU khususnya, masalah frekuensi tetap menjadi wewenang pemerintah pusat berdasarkan UU No. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi. Malahan di tahun 2007 ini sudah ada pula peraturan pemerintah baru yang mengatur tentang masalah perizinan Orari dan RAPI yang selama ini dilakukan di dinas perhubungan setempat nantinya akan dilimpahkan pula ke pemerintah pusat berdasarkan PP No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota dan tinggal menunggu penerapan dilapangan karena Kepmen, Kepdirjen dan Juklaknya belum selesai digodok.

Alhamdulillah kami bisa menyelesaikan kegiatan pendataan di takengon ini tepat waktu malahan hasil yang didapat melebihi dari yang kami targetkan karena ada beberapa pengguna yang kami pikir tidak akan bisa kami jangkau karena kondisi di lokasi target (beberapa kecamatan) sedang longsor tetapi ternyata bisa kami temui secara tidak sengaja karena penanggung jawab tekniknya kebetulan sedang ada di takengon.

Oiya, maafkan diriku karena kemarin bener-bener ngejar waktu hingga ga sempat foto-foto pemandangan danau laut tawar yang super indah itu, soalnya kami bener-bener kerja dari jam 8 sampe maghrib demi bisa mengejar target pendataan. Ada sih foto-foto tapi bukan foto pemandangan, sumpah deh kalian pasti ga akan pengen lihat karena foto-foto yang ada di camdig cuma foto saat kegiatan pendataan, saat kami makan malam dan tentu saja foto diriku yang narsis ini (mana yang keliatan juga cuma kepalanya doang, bener-bener tidak menggambarkan suasana sekitar deh pokokna), jadi sebaiknya emang tidak usah di upload disini yah 🙂

Hmmm.. kayaknya cerita tentang perjalanan dinasnya segitu aja deh ya, kalo emaknya nayla belom puas juga nanya japri aja deh yaa… *tuing… tuing…*

Sekarang kita ngomongin masalah liburan idul adha kemarin…

Berhubung liburannya agak lumayan panjang, jadi aku mudik ke Medan, lumayan kan bisa dapat 7 hari walau sebenernya kalau mau bandel dan bolos 2 hari malah bisa libur 14 hari. Tapi atas nama tanggung jawab (karena kerjaan akhir tahun amit-amit banyaknya) dan ga rela disebut makan gaji buta, aku memutuskan untuk tetap masuk di harpitnas tanggal 27 dan 28 Desember ini walau dalam hati ada keinginan juga buat lari lagi ke medan tanggal 28 malem karena tanggal 29 nya opungku balik dari menunaikan ibadah haji. Tapi kita lihat kondisi ntar aja…

Kemarin itu di Medan sempat ada rencana buat ngajak keluarga liburan ke Brastagi karena seingatku udah lama banget aku enggak liburan bersama keluarga lengkap. Apalagi di akhir tahun ini alhamdulillah rezeki mengalir dengan sangat sangat lancar. Sayang karena satu hal rencana yang sudah matang itu (bener-bener matang karena kami sudah ready to go, all bag sudah packed, hotel sudah di booking dan bahkan konsumsi baik ringan maupun berat untuk persediaan selama kami berada disana juga sudah disiapkan) jadi mentah kembali dan akhirnya kami tidak jadi berangkat, yah.. kita berencana Allah yang menentukan kan??

Akhirnya untuk menebus kekecewaan itu kami pun memutuskan untuk refreshing dengan berenang ke kolam renang dekat rumah, sekalian ngajak si fadlan (keponakanku yang belum genap 1 tahun itu) maen aer. Walau (mungkin) ga akan bisa nyamain keceriaan jika kami jadi ke Brastagi tapi dengan ngeliat fadlan yang maruk maen aer banget karena baru pertama kali diajak ke kolam renang ternyata bisa sedikit mengobati kekecewaan kami sebelumnya.

Kegiatan saat idul adha nya sendiri ga berkesan sama sekali, karena bus yang aku tumpangi dari B. Aceh telat masuk ke Medan, banyakan berhenti dijalan. Biasanya bisa nyampe jam 6an tapi kemarin jam setengah 8 baru  nyampe. Ngeselin bener dah karena aku jadi ga bisa ikutan sholat ied dan karena tahun ini jatah kurban buat mamak aku juga ga liat saat penyembelihan hewan-hewan kurban. Semakin lengkap tidak berasa lebaran karena opung juga sedang tidak ada. Jadi ga ada kegiatan sama sekali, sehari penuh cuma tiduran dirumah..

Akhir cerita, semalam aku balik ke Banda Aceh (seharusnya) dengan penerbangan jam 16.20 tapi ternyata di delay hingga hampir 4 jam. Untungnya aku naik pesawat dari maskapai yang ruang tunggunya dipindahkan ke ruang tunggu terminal keberangkatan internasional (akibat efek terbakarnya terminal keberangkatan domestik bandara polonia Medan, maskapai domestik jadi dipecah ke beberapa tempat dan ada 2 maskapai penerbangan yang dipindahkan ke terminal keberangkatan Internasional ini) yang menyediakan fasilitas hotspot wifi , jadi walaupun nunggu hampir 4 jam karena sambil nunggu bisa browsing-browsing, jadi ga berasa lama deh hehehe..

Aku baru nyampe Bandara SIM jam sembilan an, udah takut aja kalau damri ga ada, karena ongkos taksi dari bandara ke kos bisa nyampe 70rb sementara dengan damri cukup bayar 10 ribu saja. Untungnya si damri masih setia menunggu jadi selamat deh bisa berhemat huehehe…

Saat pertama kali nyampe di Banda Aceh, agak heran juga karena kondisi di bandara masih rame padahal biasanya penerbangan terakhir  dari B. Aceh adalah jam 18.00, ooh.. ternyata kedatangan  pesawatnya barengan dengan kedatangan jemaah haji kloter ke-2. Pantesaan..

Nyampe kos udah jam 10an, di kos dapat kejutan manis karena air PDAM akhirnya bisa jalan (bye bye air sumur yang bau dan kuning dan asin..)

Selanjutnya, langsung mandi dan tidur deeh…

eh ga ding, sebelum tidur ada sesi curhat sekitar sejam an dengan mega, huhuy deh pokoknya huehehehe….

 

 

 

 

Advertisements

4 Comments

  1. puass…puassssss…puasss….. 😀
    Nanti cerita lagi weekend selanjutnya ya…
    alias newyear masehi di banda aceh, semoga ga tidur aja dikosan dgn alasan keluar akan menguras sumur duitnya adhe kekekekkekeke………………..

  2. kekekeke…
    ga jadi tahun baru masehi di banda jeung…
    barusan aku ambil tiket so ntar malem beraaangkaaatt..
    huhuy..

  3. Salam kenal untuk Adhe….tetap semangat….birokrat muda bermental baja….

  4. Perjuangan pns di daerah emang luar biasa. Klo gak ada kerjaan lagi, ga bakal deh gw masuk jd pns,hihihih…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: