Skip navigation

Dalam rangka meningkatkan ibadah di 10 malam terakhir, semalam, di malam 27 secara kebetulan di musholla dekat rumah mengabarkan kalau ba’da sholat tarawih akan diadakan sholat tasbih di Mesjid. Aku pikir enak juga nih kalo ikutan, daripada ibadah sendirian dirumah (karena aku belum juga mendapatkan infomasi mengenai mesjid yang memfasilitasi i’tikaf buat akhwat).

Sebelum itu, saat kultum setelah isya entah kenapa ada perasaan nyeri di hatiku saat ustadz mengingatkan kalau bisa saja ini menjadi ramadhan terakhir kita. Aku sudah sering sekali mendengarkan ustadz menyampaikan hal itu dan aku juga pernah merenunginya saat menjelang ramadhan kemarin. Tapi perasaanku tidak pernah seperti kemarin, rasa sedih dan takut berbaur menjadi satu dan aku hampir terisak karenanya. Apa hal itu bisa diartikan ramadhan ini memang menjadi ramadhan terakhirku??

Wallahualam Bishowab…

back to topic,  Setelah sholat tarawih dan witr aku tetap tinggal di musholla karena emang dari awal niat pengen ikutan sholat tasbih, oiya.. ini akan menjadi sholat tasbih keduaku. Pertama kali melaksanakannya adalah ramadhan dua tahun lalu di Mesjid Agung Sunda Kelapa. Saat itu kesan pertama setelah melaksanakannya adalah Capek!! huehehe…

Setelah beberapa saat tinggal di Musholla tidak ada tanda-tanda akan ada sholat, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung kepada ibu-ibu yang sepertinya sedang merundingkan sesuatu. Bisa dibilang aku emang paling males bergabung sama ibu-ibu di musholla, bukannya sombong.. tapi aku ga ngerti apa yang mereka bilang secara mereka berkomunikasi dalam bahasa Aceh dan bahasa aceh yang aku tau terbatas sekali. Kalau na (yes) hana (no) aja sih bisa huehehe…

Setelah aku bergabung dan mencoba memahami dengan seksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya barulah aku mengerti kalau ternyta sholat tasbihnya dilaksanakan di Mesjid bukan di Musholla. dan mereka sedang berdiskusi apakah akan pergi ke Mesjid atau tidak. Secara Mesjid yang dimaksud berjarak sekitar 500 m dari musholla tempat kami berada. Setelah berembug beberapa saat akhirnya diputuskan kalau jadi!.  Karena ada barengannya aku pun dengan senang hati ikut bergabung.

Selama perjalanan menuju mesjid ibu-ibu itu membahas mengenai malam lailatul qadr yang menurut mereka tidak terjadi dimalam 25 kemarin karena di malam 25 kemarin hujan sementara menurut mereka kata ustadz kalau turunnya malam lailatul qadr biasanya adalah tenang dan senyap (ini terjemahan bebas loh ya, soalnya mereka ngomongnya pake bahasa aceh).

Pas saat tinggal beberapa meter lagi dari mesjid, imam mesjid mengumumkan kalau sholat tasbih akan segera dilaksanakan. Kami pun mempercepat langkah, bahkan ada satu ibu yang sangkin semangatnya dan takut ketinggalan berlari menuju mesjid. Anak-anak yang melihat kami berlarian pun bertanya kepada ku “kak pokon plung plung?” (kak, kenapa lari-lari??), karena saat itu sedang mengejar waktu aku cuma menjawab dengan senyum, sementara ada seorang ibu dibelakangku yang menjawab “apa kau bilang kak kak, kami udah ibu-ibu tau” hahahahaha… (sumpah cara ngomongnya ibu itu lucu banget, pake bahasa aceh tok tok, dengan sangat yakin kalo dia yang sedang ditanya) dan reaksi sang anak pun spontan bgt bilang, yang itu masih kakak-kakak bu..   hahahahaha… aya-aya wae….

Singkat cerita kami pun melaksanakan sholat tasbih di mesjid tersebut, 4 rakaat dengan 2 kali salam. Banyak yang bilang kalau sholat tasbih ini bid’ah, tapi setelah aku mencari informasi lebih dalam, ternyta enggak kok. Kalau mau tau lebih banyak mengenai sholat tasbih, bisa dilihat disini dan disini. Disitu ada keterangan juga alasan kapan sholat tasbih bisa menjadi bid’ah hukumnya. Walaupun aku melaksanakannya pada bulan ramadhan di malam 27, tapi semua kembali kepada niat. Aku tidak mengkhususkan hal itu karena semua terjadi secara kebetulan. Tergantung bagaimana kita memandangnya..

Pulang dari sholat, si ibu yang berlari-lari tadi  bercerita padaku kalau di rakaat pertama jantungnya berdetak keras sekali akibat dia berlari-lari saat menuju mesjid, baru saat rakaat kedua dia merasa lebih tenang. Ibu, semangatnya subhanallah banget sih tadi kataku  hehehe…

Ibu yang lain menceritakan kalau saat duduk tahiyat dia membaca tahiyat dulu baru kemudian bertasbih 10x. Ibu yang lain mengatakan kalau dia bertasbih dulu baru membaca tahiyat lalu salam. Sepanjang perjalanan sempat ada silang pendapat diantara mereka, masing-masing mempertahankan pendapatnya sampai akhirnya mereka bersepakat kalau perbedaan adalah hal yang biasa, perbedaan adalah rahmat. Subhanallah banget kan ibu-ibu ini.

Ternyata bergaul sama ibu-ibu enak juga, banyak yang bisa dipelajari. Semalam aku mendapatkan ilmu kebesaran hati dalam menerima perbedaan dari mereka, menganggap perbedaan sebagai rahmat memang bukan hal yang mudah, tapi jika itu bisa menjadikan sesuatu menjadi lebih baik maka perbedaan itulah yang harus kita hormati. Hmmm… bijaksana sekali yah…

Duh, setelah kejadian semalam jadi ga sabar pengen gaul lagi sama ibu-ibu itu. Sayang ramadhan tinggal beberapa hari lagi dan sayang aku juga akan pindah setelah lebaran nanti. Semoga disisa ramadhan ini aku bisa membina hubungan silaturrahmi yang baik dengan mereka, semoga….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: