Skip navigation

Saat sahur tadi, adik laki-lakiku -aziz- mengirimkan sebuah sms:

“Kak, tadi kami dapat rezeki dari olimp** gara-gara kami pake lemari o**m*yc! heboh satu kampung.”

sambil senyum-senyum mbayangin kehebohan orang sekampung, aku pun me-reply sms nya

“Dapat apa? masuk tipi ga??”

ya kali-kali aja kan, biasanya kan suka gitu, bagi2 rezeki sekalian buat dimuat di iklan mereka, ya.. ya.. ngaku deh… emang narsis juga sih, kan lumayan promosi keluarga gratis. Bisa bilang gini ke orang-orang..

“wooiii… emak gue ma adek2 gue masuk tipiiii” huehehehe..

trus di reply lagi ama aziz (ya iyalah masa ama entong atau memet, ouuuppss..ketahuan deh kalo aku penikmat sinetron si entong, sungguh terlalu..hihihihi)
“Dapat duit 50ribu dan dapat tas, baju, binder. tadi orang itu pakai hendicam. gak tau masuk tipi atau enggak, tadi kamar kami di foto, celana kak utet te gantung dilemari nanti takutnya masuk koran, malu.”

Haiiyaaaah.. duit 50ribu ternyata bisa juga bikin orang sekampung jadi heboh, ga kebayang juga sih seheboh apa. Kirain dapat berapa gituuu… kan mayan buat alasan motong budget thr adek2. Padahal udah niat mo bilang gini ke mereka:

“adek2ku sayang, karena kalian kemarin baru dapat rezeki dari *lym***, jadi jatah THR kalian kakak kurangi jadi sekian yah..”

Tapi dasar nasib belum beruntung (atau masih beruntung??), akhirnya jatah THR buat mereka bakal tetap sama seperti rencana semula.

Oiya back to the topic lagi. Selanjutnya aku pun me-reply lagi sms dari aziz:

“Hahahaha.. emang celana kolor??”

“Enggak celana jeans kok!”

Begitulah akhir sms an ku dengan aziz di sahur tadi.

Postingan ini selesai begitu saja?? belum dong.. sekarang, mari kita ambil pesan moralnya:

Dengan uang 50 ribu, bawa handycam (ada ga ada kaset ga penting, yang penting gaya) dan sisa-sisa hadiah yang masih cukup layak ternyata bisa menjadi media promosi murah meriah dari suatu produk. Bisa dibilang efektif karena langsung menjangkau pasar yang diinginkan. Dengan cara seperti ini, bukan tidak mungkin masyarakat yang menyaksikan menjadi tertarik untuk membeli produk yang bersangkutan karena ingin dapat hadiah atau masuk tipi (???). Yah pinter-pinter milih lokasi aja dan menurutku lokasi pemukiman di tempat tinggalku sangat efektif untuk promosi dengan cara seperti ini (pasti sebelum datang kepemukiman kami mereka sudah melakukan survei sebelumnya).

Karena apa?? Karena mereka (seperti) sudah memahami kalau :

a. tingkat pendidikan rata-rata masyarakat didaerah itu masih rendah;

b. masyarakatnya berbaur (sehingga kalo terjadi hal yang tak biasa pasti akan “dikerubuti”);

c. masyarakat ditempat tinggalku punya sifat klasik orang-orang perumahan yaitu, tidak mau kalah dari yang lain (pasti ini menjadi poin plus plus buat produsen).

So? ada yang mau meniru?? Silahkan.. ga bayar kok…

Oiya, satu lagi. Jangan pernah menggantung celana dalam, kolor dan sejenis nya sembarangan sebab kalo ada ‘sidak” seperti kejadian diatas bisa-bisa menjadi penyakit malu (bukan panu) menahun. Beruntung si utet, adikku yang manis itu hanya menggantung celana dengan jenis jeans (walau mungkin bikin dia jadi khawatir karena dekil akibat sudah setahun tak dicuci).

Advertisements

4 Comments

  1. hihi.. lucu bgt! ga kebayang aziz skrg kyk apa, terakhir ketemu waktu msh kecil bgt, masih TK kali ya?

  2. iya, tp dia masih inget loh sama pincekers…
    sekarang dia udah SMP kelas 1

  3. masih inget aku, waktu dia masih ingusan keluar ingus mulukk..he…he…he..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: